Selama bertahun-tahun, permainan digital marketing cukup jelas: kejar posisi teratas di Google. Keyword research, technical SEO, content marketing, dan backlink adalah senjata utamanya.
Tapi cara orang mencari informasi sudah bergeser.
Sekarang, banyak orang tidak lagi mengetik keyword lalu membuka satu per satu website. Mereka langsung bertanya ke ChatGPT, Gemini, atau Perplexity:
“Apa digital marketing agency terbaik di Surabaya?”
AI pun menjawab, meracik rekomendasi dari berbagai sumber yang tersedia di internet.
Dari sinilah dua istilah baru mulai ramai dibicarakan: AEO (Answer Engine Optimization) dan GEO (Generative Engine Optimization). Dan bagi bisnis yang menyasar market spesifik — kota tertentu, niche tertentu — pergeseran ini justru membuka peluang besar.
Daftar Isi
Dari SEO, ke AEO, ke GEO
Ketiganya punya fokus yang berbeda, meski saling terkait:
| Strategi | Fokus |
|---|---|
| SEO | Membuat website muncul di hasil pencarian |
| AEO | Membuat konten menjadi jawaban saat orang bertanya ke answer engine |
| GEO | Membuat brand disebut atau direkomendasikan dalam jawaban yang dihasilkan AI |
Ambil contoh sebuah bisnis yang ingin dikenal sebagai digital marketing agency di Surabaya. Target masing-masing strategi akan terlihat seperti ini:
- SEO — muncul di halaman pertama Google untuk keyword “digital marketing agency Surabaya”.
- AEO — menjadi sumber jawaban ketika seseorang bertanya bagaimana memilih digital marketing agency di Surabaya.
- GEO — ikut disebut atau direkomendasikan saat seseorang bertanya ke AI soal digital marketing agency di Surabaya.
GEO dan AEO bukan pengganti SEO. Keduanya adalah kelanjutan alami dari strategi organic visibility yang sudah ada.
Pengalaman Nyata: Klien yang Datang dari ChatGPT
Ini bukan sekadar teori. Saya sendiri pernah mendapat calon klien yang menemukan bisnis saya lewat rekomendasi ChatGPT.
Alur akuisisinya bukan lagi:
Google → Website → Contact → Client
melainkan:
ChatGPT → Rekomendasi → Website/Brand → Contact → Client
AI kini berperan sebagai discovery layer — lapisan penemuan pertama sebelum calon pelanggan sampai ke website. Mereka bertanya sesuai kebutuhan, dan AI memperkenalkan brand yang dianggap relevan, bahkan brand yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Ini melahirkan pertanyaan baru bagi marketer: bagaimana caranya agar bisnis kita menjadi salah satu jawaban itu?
Hyperlocal GEO: Peluang Besar untuk Market Kecil
Menurut saya, use case GEO paling menarik justru ada di bisnis lokal dan bisnis dengan target market yang sangat spesifik.
Bandingkan dua pencarian ini:
- “Digital marketing agency terbaik di dunia”
- “Digital marketing agency untuk restoran di Surabaya”
Market yang kedua jauh lebih kecil — tapi justru karena lebih kecil, optimisasinya bisa jauh lebih tajam. Kita bisa membangun rantai konteks yang jelas:
Brand → Service → Industry → Location
Misalnya: Amsa Studio → Digital Marketing → Restaurant → Surabaya
Rantai ini kemudian diperkuat lewat konten seperti:
- Digital marketing agency Surabaya
- SEO Surabaya / Google Ads Surabaya
- Digital marketing untuk restoran
- Case study restoran
- Digital marketing untuk bisnis lokal
Semakin konsisten informasi ini muncul di berbagai sumber, semakin kuat konteks yang dipegang search engine maupun AI tentang bisnis tersebut.
Digital PR dan Backlink Tidak Mati — Perannya Berubah
Ada anggapan bahwa backlink sudah tidak relevan di era GEO, karena AI bisa langsung memberi jawaban tanpa perlu mengklik link. Menurut saya, ini pandangan yang terlalu menyederhanakan.
Backlink dan digital PR tetap penting — tapi nilainya bukan lagi sekadar jumlah link.
Dalam SEO tradisional, pertanyaannya: “Berapa banyak website yang memberi saya backlink?”
Dalam GEO, pertanyaannya bergeser menjadi: “Berapa banyak sumber terpercaya yang menghubungkan brand saya dengan expertise, industri, lokasi, dan topik tertentu?”
Contoh sederhana: sebuah media lokal menulis bahwa Amsa Studio adalah digital marketing agency berbasis di Surabaya. Ini menciptakan konteks:
Amsa Studio → Digital Marketing Agency → Surabaya
Lalu media lain menulis pengalaman Amsa Studio menangani campaign Google Ads untuk restoran — muncul hubungan baru:
Amsa Studio → Google Ads → Restaurant → Performance Marketing
Sementara sebuah website industri mengutip pendapat founder Amsa Studio dalam artikel tentang SEO. Semakin banyak sumber independen yang mengaitkan brand dengan expertise tertentu, semakin kuat posisinya di mata AI.
Backlink Bukan Lagi Sekadar Angka
Dalam SEO tradisional, jumlah backlink kerap jadi metrik utama. Dalam GEO, relevansi dan konteks jauh lebih menentukan daripada volume.
Lima mention yang sangat relevan bisa lebih berharga daripada ratusan backlink dari website yang tidak berhubungan dengan industri atau target market:
- Kurang relevan — 100 backlink dari website acak yang topiknya tidak nyambung.
- Lebih relevan — media lokal Surabaya menyebut bisnis Anda sebagai digital marketing agency lokal.
- Lebih kuat — media marketing mengutip founder Anda sebagai expert dalam artikel tentang SEO.
- Paling kuat — media industri membahas case study Anda dan mengaitkan brand dengan hasil campaign yang nyata.
Fokus GEO bukan lagi sekadar backlink, tapi kombinasi dari relevant mentions + citations + backlinks + entity associations.
Mention Tanpa Backlink Pun Tetap Bernilai
Ini salah satu perbedaan paling menarik antara SEO tradisional dan GEO. Bayangkan sebuah media menulis “Amsa Studio adalah digital marketing agency berbasis di Surabaya” tanpa menyertakan link sama sekali.
Dari sisi link building, memang tidak ada manfaat langsung. Tapi dari sisi brand visibility dan entity recognition, mention itu tetap bernilai — brand kembali diasosiasikan dengan kombinasi Digital Marketing Agency dan Surabaya. Jika pola ini muncul berulang di banyak sumber independen, internet punya semakin banyak konteks tentang siapa dan apa bisnis tersebut.
Membangun Entity, Bukan Sekadar Backlink
Ini bagian paling penting dari GEO: strategi ke depan tidak cukup hanya soal website dan backlink — kita perlu membangun digital entity.
Misalnya sebuah bisnis ingin dikenal sebagai “SEO agency untuk bisnis di Surabaya”. Berbagai aset digitalnya harus memberi sinyal yang konsisten:
Owned media
- Website, service pages, location pages
- Blog, case study, about page, author profile, FAQ
- Structured data
Earned media
- Digital PR, media mentions, expert interviews
- Publikasi industri, podcast, media lokal
- Backlink relevan, case study, kutipan expert
Entity ecosystem
- Google Business Profile, LinkedIn, YouTube, media sosial
- Business directory, asosiasi industri
- Partner website, halaman event, platform review
Tujuannya bukan mengejar jumlah link, tapi membuat berbagai sumber independen di internet punya pemahaman yang konsisten tentang siapa bisnis Anda.
Dari “Ranking” ke “Recommendation”
Perubahan terbesar yang dibawa AI search adalah cara kita mengukur visibility. Dulu, pertanyaannya sederhana: “Keyword ini ranking berapa?”
Sekarang, pertanyaan yang perlu ditambahkan:
- Apakah AI mengenali brand saya?
- Apakah AI memahami expertise saya?
- Apakah AI menghubungkan brand saya dengan lokasi tertentu?
- Apakah AI menyebut bisnis saya saat orang mencari layanan yang saya tawarkan?
- Mengapa AI memilih kompetitor saya, bukan saya?
Pertanyaan-pertanyaan ini akan semakin relevan seiring AI menjadi bagian yang makin dominan dalam proses pencarian dan discovery.
SEO, AEO, dan GEO: Satu Ekosistem, Bukan Pilihan
Pada akhirnya, kita tidak perlu memilih salah satu di antara SEO, AEO, atau GEO — ketiganya berjalan bersama:
- SEO membantu website ditemukan.
- AEO membantu konten menjadi jawaban.
- GEO membantu brand muncul dalam rekomendasi dan jawaban AI.
Fondasinya tetap sama:
Technical SEO → Quality Content → Topical Authority → Entity Building → Digital PR → Brand Authority
Bedanya, hasil akhir yang dikejar sekarang bukan cuma ranking dan traffic, tapi juga visibility di dalam jawaban yang dihasilkan AI.
Peluang Besar untuk Bisnis Lokal
Bagi bisnis dengan market yang sangat luas, GEO mungkin terasa seperti medan kompetisi baru yang berat. Tapi bagi bisnis lokal, justru sebaliknya.
Menargetkan “digital marketing agency” jauh lebih luas — dan lebih sulit dimenangkan — dibanding “digital marketing agency Surabaya untuk restoran”. Dengan market yang lebih spesifik, topical authority, local relevance, entity association, dan digital PR bisa dibangun jauh lebih terarah.
Di sinilah letak peluang besar Hyperlocal GEO: bukan sekadar membuat brand muncul di AI, tapi membuat brand menjadi jawaban AI untuk market tertentu.
Dulu, kita berlomba memenangkan halaman pertama Google. Sekarang, kita juga harus berusaha menjadi bagian dari jawaban itu sendiri.



